Tampilkan postingan dengan label paradoks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paradoks. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Juni 2013

IPTEK (Sains) Versus Spiritualitas? (2)

Namun, benarkah sedemikian keras pertentangan itu? Tidakkah kita dapat melihatnya sebagai dua sisi yang saling melengkapi (komplementer), sehingga membentuk pemahaman yang menyeluruh? Kita, lelaki dan perempuan, adalah manusia komplementer. Bahkan, di dalam diri kita, kedua unsur itu ada. John Gray, dengan bukunya Men are from Mars, Women are from Venus, membangun kita untuk memahami perbedaan itu sebagai unsur yang saling melengkapi dan membangun harmoni.

Dualitas yang bersifat komplementer adalah pilihan lain dalam isu sains dan agama. Dualitas yang saling melengkapi ditunjukkan oleh watak cahaya sebagai partikel dan sebagai gelombang. Untuk mengatasi apa yang tampak absurd itu, fisikawan Niels Bohr memperkenalkan pengertian ‘komplementer’. Ia memandang gambaran partikel dan gambaran gelombang sebagai diskripsi komplementer atas realitas yang sama. Tidak ada yang satu salah dan yang lain benar.

Teorema Gödel juga menunjukkan bahwa kita perlu mengembangkan ‘science of reason‘ yang menerima paradoks dan kontradiksi-diri sebagai watak inheren dari Alam Semesta. Menurut teorema Gödel, untuk menunjukkan konsistensi sebuah sistem aksiomatik, yang didasarkan pada matematika, kita harus melangkah keluar dari batas-batas sistem tersebut.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
//** Like Button FB **//
//** Like Button FB **//